Pada suatu hari ada seseorang yang bernama (Ridwan Fadil) dia bekerja di Uni Emirat Arab sebagai Financial Controller pada sebuah proyek pembangunan property. Awal nya dari sebuah keisengan Ridwan memperhatikan dan mengamati kegiatan rutin seorang room boy yang ditugaskan memeriksa kunci di setiap kamar. Yang menarik perhatian Ridwan adalah room boy itu melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat teliti dan penuh antusias, dia memeriksa dengan cermat dari satu pintu ke pintu yang lain sampai dia yakin betul bahwa kunci dikamar tersebut benar-benar berfungsi dengan baik.
Tidak terlihat rasa jenuh diraut wajahnya. Sebaliknya, ia nampak penuh semangat terkadang bersiul kecil. Padahal, kalau dilihat-lihat pekerjaan seperti itu sangat menjemukan. Betapa tidak, setiap hari harus memeriksa tidak kurang dari 600 pintu kamar hotel.
Berangkat dari rasa penasaran, usai jam kerja Ridwan mengajak berkenalan dan berbincang sebelum room boy itu meninggalkan hotel untuk pulang ke mess karyawan. Setelah basa basi perkenalan,Ridwan pun mulai bertanya seputar pekerjaan yang menjemukan itu.
“Berapa sih, anda dibayar untuk pekerjaan yang menjemukan ini ?” Tanya Ridwan. Mendengar pertanyaan itu, room boy pun membelalakan matanya sambil tertawa lebar. Ridwan pun semakin penasaran. “Wah orang ini pasti dibayar mahal untuk pekerjaan menjemukan itu, sehingga dia melakukannya dengan begitu sungguh-sungguh dan penuh semangat.”
“Pertanyaan anda menyinggung perasaan saya!” jawabnya agak keras. Ridwan pun kaget dan balik bertanya, “Loh, kenapa? Saya justru kagum kepada anda karena saya perhatikan Anda mengerjakan tugas dengan penuh tanggung jawab.”
Dia tertawa lepas sambil berkata,”Jangan mengukur pekerjaan dengan imbalan yang anda terima! Karena kalau itu yanga anda lakukan anda akan selalu merasa kekurangan dan akan menjadikan jiwa anda tersiksa oleh ketidakpuasan, Anda pasti kecewa.
“Ok, buat saya ini menarik! Lalu, apa yang membuat anda bersemangat dan sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan?”Tanya Ridwan.
Room boy pun menjawabnya,”Ada satu hal yang perlu Anda ketahui dari pekerjaan saya, yaitu tanggungjawab saya kepada Tuhan, tanggunggjawab saya kepada company, dan yang tidak kalah penting adalah tanggungjawab saya terhadap keselamatan tamu hotel dan orang-orang yangada di belakang mereka!”
“Maksud, Anda?” Tanya Ridwan.
“Seperti anda lihat, tamu-tamu hotel ini adalah para suami dari istri-isrti mereka, para bapak dari anak-anak mereka, para manajer dari bawahan mereka dan para bos besar yang menjadi tumpuan banyak orang di bawahnya. Nah kalau saya lalai dalam menjalankan tugas, apa yang akan terjadi? Anda bisa bayangkan kalu terjadi kebakaran di hotel ini, kemudian banyak tamu hotel yang terjebak di kamar dan tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena kunci kamar macet, kemudian mereka tewas? Saya akan sangat menyesal dan menjadi orang yang paling merasa bersalah atas kelalaian yang saya lakukan.”
“Lalu?”Ridwan bertanya lagi.
Room boy pun melanjutkannya, “Saya bukan hanya bertanggungjawab atas kematian tamu hotel yang para suami dari istri- isrti mereka, para bapak dari anak-anak mereka, para manajer dari bawahan mereka dan para bos besar yang menjadi tumpuan banyak orang di bawahnya. Tetapi, saya juga harus bertanggungjawab atas penderitaan para istri yang kehilangan suami-suami mereka, para anak yang kehilangan bapak-bapak mereka, para bawahan yang kehilangan manajer mereka, nasib para karyawan yang kehilangan para pemimpinnya. Dan satu hal lagi yang membuat sata bangga dengan profesi saya ini adalah ketika saya bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik dan benar, berarti saya telah berupaya menyelamatkan orang banyak dari kemungkinan terjadinya musibah.”
Sejenak Ridwan pun diam terkesima mendengar paparan panjang lebar dari seorang office boy. Setengah tidak percaya. Tapi sungguh luar biasa, ini nyata! Sungguh saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan jawaban yang begitu inspiratif dari mulut seorang room boy.
Pegawai dengan posisi”serendah”itu bisa memahami hakekat kerja yang sebenarnya. Dia tidak lagi bicara atau berpkir apa yang bisa dia dapat dari pekerjaan yang dilakukannya. Sebaliknya, ia selalu berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain. Semua sikap dan tindak luar biasa yang ia lakuakn itu bukan karena ingin dipuji, dapat tip lebih, naik pangkat dan sejenisnya, tapi lebih karena kesadarannya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah ibadah.
Sungguh menakjubkan bukan. Hanya seorang room boy entah dia lulus SMA atau tidak, dia memiliki pola pikir dan pola tindak yang demikian komprehensif dan mulia.
Kisah inspiratif room boy diatas kupersembahkan untuk teman-temanku, semoga setelah lulus nanti, teman-teman bisa mencontoh kisah diatas, Toh dibidang apasaja nantinya kita bekerja apalagi kalau sesuai dengan jurusan, yang notabennya sangat menggiurkan keimamam kita. SEMANGAAAAAT!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar